SELAMAT DATANG di WebBlogSite tentang coretan, gagasan, pengalaman & pendapat tentang dunia kependidikan di indonesia dari kacamata yang terdidik

Atap Bocor dan Bangku Rubuh Sudah Biasa




Letaknya hanya berjarak sekitar tujuh kilometer dari kota Polewali Mandar, ibukota salah satu kabupaten di Sulawesi Barat, namun kondisi bangunan dan fasilitas penunjangnya bisa dikatakan jauh dari layak. Kondisi SD 55 Binuang Polewali Mandar terancam ambruk dan sarananya telah lapuk dimakan usia.

Sejumlah meja dan bangku reyot yang hanya ditopang dengan dua tiang masih dimanfaatkan para siswa belajar karena tak ada bangku dan meja lain. Atap bocor dan dinding lapuk dimakan rayap sebenarnya membuat suasana belajar di sekolah ini menjadi tidak nyaman. Namun demikian, ratusan siswa di sekolah tampak tetap semangat belajar.

Sekolah Rusak Berat Dibantu Rp85 Juta



Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) memberikan bantuan rehabilitasi 179 ruang kelas dari jumlah total 805 ruang kelas  rusak berat yang tersebar di beberapa sekolah SD dan SMP di Brebes, Jawa Tengah. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) , Mohammad Nuh, menjelaskan bantuan rehabilitasi ini sesuai dengan program rehabilitasi sekolah di seluruh Indonesia yang mulai dicanangkan sejak Oktober 2011 lalu.

Terkait program ini, Nuh turut melakukan kunjungan ke SD Negeri Margadadi 02, Bumiayu, Brebes, Jawa Tengah yang mana merupakan salah satu sekolah penerima bantuan rehabilitasi sekolah.

Sam Ratulangi




Dr. Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi atau lebih dikenal dengan nama Sam Ratulangi (lahir di Tondano, Sulawesi Utara, 5 November 1890 – meninggal di Jakarta, 30 Juni 1949 pada umur 58 tahun) adalah seorang politikus Minahasa dari Sulawesi Utara, Indonesia. Ia adalah seorang pahlawan nasional Indonesia. Sam Ratulangi juga sering disebut-sebut sebagai tokoh multidimensional. Ia dikenal dengan filsafatnya: "Si tou timou tumou tou" yang artinya: manusia baru dapat disebut sebagai manusia, jika sudah dapat memanusiakan manusia.

Sam Ratulangi adalah anak dari Jozias Ratulangi. Pada tahun 1907, dia pergi ke Batavia untuk melanjutkan sekolah di Koningeen Wilhelmina School. Setelah tamat, Sam Ratulangi melanjutkan ke Vrije Universiteit van Amsterdam, Belanda.Di sana, dia dipercaya menjadi Ketua Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di Belanda tahun 1914. Lima tahun kemudian, dia memperoleh gelar doktor di bidang matematika dan fisika

Ahmad Syafi'i Ma'arif




Ahmad Syafi'i Ma'arif (lahir di Sumpurkudus, Sijunjung, Sumatera Barat, 31 Mei 1935; umur 77 tahun) adalah mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah dan pendiri Maarif Institute, yang juga dikenal sebagai seorang tokoh dan ilmuwan yang mempunyai komitmen kebangsaan yang kuat. Sikapnya yang plural, kritis, dan bersahaja telah memposisikannya sebagai "Bapak Bangsa". Ia tidak segan-segan mengkritik sebuah kekeliruan, meskipun yang dikritik itu adalah temannya sendiri.

    Masa muda
Sejak kecil ia hidup dalam lingkungan keislaman yang kental. Lulus dari Ibtidaiyah Sumpurkudus, ia melanjutkan ke Madrasah Muallim Lintau, yang kemudian pindah ke Yogyakarta di sekolah yang sama. Ia memang mengambil seluruh pendidikan menengahnya di Mualimin Muhammadiyah. Kemudian ia melanjutkan pendidikannya ke Fakultas Hukum Universitas Cokroaminoto, Solo, hingga memperoleh gelar sarjana muda. Setamat dari Fakultas Hukum, ia melanjutkan pendidikannya ke IKIP Yogyakarta, dan memperoleh gelar sarjana sejarah.

Raden Ajeng Kartini




Repro negatif potret Raden Ajeng Kartini (foto 1890-an)

Raden Adjeng Kartini (lahir di Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879 – meninggal di Rembang, Jawa Tengah, 17 September 1904 pada umur 25 tahun) atau sebenarnya lebih tepat disebut Raden Ayu Kartini[1] adalah seorang tokoh suku Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia. Kartini dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi.

    Biografi

Ayah Kartini, R.M. Sosroningrat.
Raden Adjeng Kartini adalah seseorang dari kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa, putri Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara. Ia adalah putri dari istri pertama, tetapi bukan istri utama. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara. Dari sisi ayahnya, silsilah Kartini dapat dilacak hingga Hamengkubuwana VI.