Lembaga pendidikan terdekat adalah keluarga karena keluarga adalah tempat pertama kita belajar. Bentuk pembelajaran yang didapat dari keluarga pun bermacam-macam dan ilmu yang didapatkan tentunya jauh berbeda dari pendidikan formal di bangku sekolah. Dalam keluarga, untuk pertama kalinya kita belajar mengeja, bicara, dan secara langsung mempraktekan cara bersosialisasi dalam tingkatan yang paling awal.
Keluarga sebagai tempat pertama
dan terakhir dalam pola kehidupan bagi pendidik maupun yang terdidik sangat
mempengaruhi karakteristik psikis mereka. Keluarga yang harmonis tentunya akan
membawa pengaruh harmonis pada saat pendidik ataupun peserta didik mengikuti
penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Begitu juga sebaliknya apabila kelurga
berantakan, bisa jadi mempengaruhi mental psikis para pendidik (guru) maupun
peserta didik (siswa) dalam penyelenggaraan pendidikan yang berakibat buruk
bagi masing-masing pihak terutama bagi kualitas pendidikan yang didapat.
Kondisi keluarga yang kurang
harmonis seringkali dipengaruhi kurangnya komunikasi antar anggota kelurga
maupun karena faktor ekonomi. Di mana orang tua yang seharusnya mengawasi langsung
proses tumbuh kembang peserta didik ketika ada di rumah justru sibuk memenuhi
kebutuhan ekonomi sehingga peserta didik yang memerlukan perhatian khusus
justru lebih sering mengambil pelajaran atau belajar dari televisi,
teman-temannya dan lingkungan sekitar yang belum dan bahkan tidak tersaring
dengan baik.
Sebagai orang tua perlu (minimal)
mengawasi dan (maksimal) memandu anak-anaknya sebagai peserta didik agar bisa
mengembangkan atau mempelajari ulang materi pelajaran yang didapat di sekolah
di sekolahnya masing-masing. Namun latar belakang pendidikan orang tua sendiri
ataupun latar belakang ekonomi keluarga seringkali tidak mendukung proses
pendidikan para peserta didik.
Bagaimana bisa peserta didik bisa
belajar mengembangkan kemampuan moral nya apabila orang tua nya sibuk bekerja
keluar kota atau keluar negeri dan anak-anaknya hanya ditipkan ke
lembaga-lembaga pendidikan non formal seperti les sedangkan lembaga pendidikan
tersebut hanya mengulangi materi pendidikan yang sama seperti di sekolah dan
tidak ada kurikulum khusus tentang pengembangan moral perilaku guna mendidik
mental emosional peserta didik.
Bila ternyata orang tua harus
memenuhi kebutuhan hidup keluarganya yang pas-pasan dan tidak memiliki waktu luang
untuk mengawasi maupun mendukung proses pendidikan peserta didik di rumah. Atau
jika ternyata orang tua tidak memiliki latar belakang pendidikan yang baik.
Misalkan, bagaimana bisa orang tua mengajarkan putra-putrinya membaca jika
dirinya sendiri buta huruf.
Kendala lain dalam proses
peningkatan taraf pendidikan bisa dirasakan jika peserta didik memiliki mental
iri melihat faslitas pendidikan yang didapat teman-temannya lebih baik dari
yang ia miliki. Seperti faslitas sepatu, tas, buku, pensil, balpoin dan
sebagainya sebagai alat pendukung utama proses pendidikan atau sepeda &
motor. Hal ini bisa mengakibatkan kesenjangan ekonomi, rasa minder, dan sombong
antar peserta didik sehingga mempengaruhi mental dan proses pendidikan.
Keluarga perlu menanamkan
pendidikan moral, emosional & psikis yang baik bagi para peserta didik agar
menyadari bahwa pendidikan itu sangat penting bagi masa depan. Karena melalui
pendidikan, ilmu yang didapat mampu menjadi kunci utama untuk meraih cita-cita
dan semua itu tidak ditentukan oleh pemenuhan fasilitas pendidikan yang bersifat
pribadi secara berlebihan.
Kunjungan atau rapat orangtua
wali dan guru pun perlu dilakukan agar masing-masing pihak bisa saling bertukar
pikiran, berkomunikasi, maupun berbagi solusi atas masalah-masalah yang
dihadapi dalam proses penyelenggaraan pendidikan sehingga para peserta didik
bisa mendapatkan kualitas pendidikan yang baik dari kedua belah pihak.
Di sini pemerintah juga sangat perlu
ikut serta membenahi lapisan atau elemen masyarakat yang paling dasar, yaitu
keluarga dengan melalui berbagai program pemerintah yang saat ini sudah ada namun
menurut penulis tidak berjalan secara maksimal. Seperti Rukun Tetangga, Rukun
Warga, gerakan PKK (Pemberdayaan & Kesejahteraan Keluarga), BKKBN dan
lain-lain.
Adanya sekolah masyarakat atau
pendidikan lanjut bagi masyarakat dewasa untuk memberantas buta huruf, pengadaan
lapangan kerja, tunjangan kebutuhan kerja bagi masyarakat, fasilitas jamsostek
dan kesmas, dihapusnya sistem kerja kontrak, adanya kredit usaha rakyat,
pelatihan wirausaha dan sebagainya diharapkan mampu memperbaiki kondisi mental
sosial ekonomi masyrakat khususnya pada lapisan keluarga sehingga keluarga pun
mampu menjadi lembaga pendidikan fital yang berpengaruh baik bagi proses
penyelenggaraan para peserta didik.
Selama dalam proses pelaksanaan program pemerintah tersebut di atas dilaksanakan sebagai mana mestinya dan tidak adanya korupsi maka pembenahan atau perbaikan kondisi keluarga sebagai lembaga pendidikan paling dasar dan utama bagi peserta didik akan berjalan sukses.
Selama dalam proses pelaksanaan program pemerintah tersebut di atas dilaksanakan sebagai mana mestinya dan tidak adanya korupsi maka pembenahan atau perbaikan kondisi keluarga sebagai lembaga pendidikan paling dasar dan utama bagi peserta didik akan berjalan sukses.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar