SELAMAT DATANG di WebBlogSite tentang coretan, gagasan, pengalaman & pendapat tentang dunia kependidikan di indonesia dari kacamata yang terdidik

BERAWAL DARI KELUARGA




Lembaga pendidikan terdekat adalah keluarga karena keluarga adalah tempat pertama kita belajar. Bentuk pembelajaran yang didapat dari keluarga pun bermacam-macam dan ilmu yang didapatkan tentunya jauh berbeda dari pendidikan formal di bangku sekolah.  Dalam keluarga, untuk pertama kalinya kita belajar mengeja, bicara, dan secara langsung mempraktekan cara bersosialisasi dalam tingkatan yang paling awal.

Keluarga sebagai tempat pertama dan terakhir dalam pola kehidupan bagi pendidik maupun yang terdidik sangat mempengaruhi karakteristik psikis mereka. Keluarga yang harmonis tentunya akan membawa pengaruh harmonis pada saat pendidik ataupun peserta didik mengikuti penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Begitu juga sebaliknya apabila kelurga berantakan, bisa jadi mempengaruhi mental psikis para pendidik (guru) maupun peserta didik (siswa) dalam penyelenggaraan pendidikan yang berakibat buruk bagi masing-masing pihak terutama bagi kualitas pendidikan yang didapat. 


Kondisi keluarga yang kurang harmonis seringkali dipengaruhi kurangnya komunikasi antar anggota kelurga maupun karena faktor ekonomi. Di mana orang tua yang seharusnya mengawasi langsung proses tumbuh kembang peserta didik ketika ada di rumah justru sibuk memenuhi kebutuhan ekonomi sehingga peserta didik yang memerlukan perhatian khusus justru lebih sering mengambil pelajaran atau belajar dari televisi, teman-temannya dan lingkungan sekitar yang belum dan bahkan tidak tersaring dengan baik.

Sebagai orang tua perlu (minimal) mengawasi dan (maksimal) memandu anak-anaknya sebagai peserta didik agar bisa mengembangkan atau mempelajari ulang materi pelajaran yang didapat di sekolah di sekolahnya masing-masing. Namun latar belakang pendidikan orang tua sendiri ataupun latar belakang ekonomi keluarga seringkali tidak mendukung proses pendidikan para peserta didik. 

Bagaimana bisa peserta didik bisa belajar mengembangkan kemampuan moral nya apabila orang tua nya sibuk bekerja keluar kota atau keluar negeri dan anak-anaknya hanya ditipkan ke lembaga-lembaga pendidikan non formal seperti les sedangkan lembaga pendidikan tersebut hanya mengulangi materi pendidikan yang sama seperti di sekolah dan tidak ada kurikulum khusus tentang pengembangan moral perilaku guna mendidik mental emosional peserta didik. 

Bila ternyata orang tua harus memenuhi kebutuhan hidup keluarganya yang pas-pasan dan tidak memiliki waktu luang untuk mengawasi maupun mendukung proses pendidikan peserta didik di rumah. Atau jika ternyata orang tua tidak memiliki latar belakang pendidikan yang baik. Misalkan, bagaimana bisa orang tua mengajarkan putra-putrinya membaca jika dirinya sendiri buta huruf. 

Kendala lain dalam proses peningkatan taraf pendidikan bisa dirasakan jika peserta didik memiliki mental iri melihat faslitas pendidikan yang didapat teman-temannya lebih baik dari yang ia miliki. Seperti faslitas sepatu, tas, buku, pensil, balpoin dan sebagainya sebagai alat pendukung utama proses pendidikan atau sepeda & motor. Hal ini bisa mengakibatkan kesenjangan ekonomi, rasa minder, dan sombong antar peserta didik sehingga mempengaruhi mental dan proses pendidikan.

Keluarga perlu menanamkan pendidikan moral, emosional & psikis yang baik bagi para peserta didik agar menyadari bahwa pendidikan itu sangat penting bagi masa depan. Karena melalui pendidikan, ilmu yang didapat mampu menjadi kunci utama untuk meraih cita-cita dan semua itu tidak ditentukan oleh pemenuhan fasilitas pendidikan yang bersifat pribadi secara berlebihan. 

Kunjungan atau rapat orangtua wali dan guru pun perlu dilakukan agar masing-masing pihak bisa saling bertukar pikiran, berkomunikasi, maupun berbagi solusi atas masalah-masalah yang dihadapi dalam proses penyelenggaraan pendidikan sehingga para peserta didik bisa mendapatkan kualitas pendidikan yang baik dari kedua belah pihak.

Di sini pemerintah juga sangat perlu ikut serta membenahi lapisan atau elemen masyarakat yang paling dasar, yaitu keluarga dengan melalui berbagai program pemerintah yang saat ini sudah ada namun menurut penulis tidak berjalan secara maksimal. Seperti Rukun Tetangga, Rukun Warga, gerakan PKK (Pemberdayaan & Kesejahteraan Keluarga), BKKBN dan lain-lain.

Adanya sekolah masyarakat atau pendidikan lanjut bagi masyarakat dewasa untuk memberantas buta huruf, pengadaan lapangan kerja, tunjangan kebutuhan kerja bagi masyarakat, fasilitas jamsostek dan kesmas, dihapusnya sistem kerja kontrak, adanya kredit usaha rakyat, pelatihan wirausaha dan sebagainya diharapkan mampu memperbaiki kondisi mental sosial ekonomi masyrakat khususnya pada lapisan keluarga sehingga keluarga pun mampu menjadi lembaga pendidikan fital yang berpengaruh baik bagi proses penyelenggaraan para peserta didik.

Selama dalam proses pelaksanaan program pemerintah tersebut di atas dilaksanakan sebagai mana mestinya dan tidak adanya korupsi maka pembenahan atau perbaikan kondisi keluarga sebagai lembaga pendidikan paling dasar dan  utama bagi peserta didik akan berjalan sukses.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar